Lalu setelah anak-anak menyelesaikan pendidikannya, mereka akan memasuki dunia kerja, kemudian menikah, dan meninggalkan rumah. Pada fase inilah kita selaku orang tua mungkin merasakan berbagai emosi, seperti sedih, kesepian, hingga kehilangan. Meski orang tua sering kali ingin anaknya mandiri, namun melepaskan anaknya tentu membuat orang tua sedih.
Jika biasanya ada anak dan cucu yang meramaikan suasana rumah dan menjadi teman mengobrol, perubahan suasana dan rasa kehilangan sangat lazim dialami oleh orang tua. Orang tua juga mungkin merasa khawatir akan keamanan anak, khawatir anak tidak bisa hidup mandiri, atau punya ketakutan kalau anak akan sulit beradaptasi.
Hal yang sama dirasakan oleh orang tua dari Papa nya si Keriting, karena tuntutan tugas dan profesi yang dijalani, mengharuskan Papa nya si Keriting tinggal dan menetap dikota yang berbeda dan berjarak dengan kedua orangtuanya.
Semua orang tua pasti merasai bahwa para kakek dan nenek lebih sayang dengan cucu mereka dibanding anaknya sendiri. Kita juga dulu merasakan hal yang sama. Ketika kecil, kakek, eyang, mbah, ompung, nenek, nini, oma, uti juga nampak sekali lebih sayang dan manjain kita, tapi tidak kepada anaknya sendiri. Tampaknya hubungan dengan jarak dua generasi bisa lebih loving dan caring ketimbang jarak satu generasi.
Kalau para kakek, eyang, mbah, ompung, nenek, nini, oma, uti jarang dijumpai yang ngomel-ngomel ke cucu, tapi kalau para bapak dan ibu ke anak, tak terbilang banyaknya.
*****
Menyoal kakek nenek yang tampak lebih sayang kepada cucu dibanding anak sendiri ini ternyata bukan perasaan kita saja, melainkan sudah dibuktikan dengan penelitian.
Seperti dilansir dari parents.com, James Rilling, profesor di Departemen Antropologi Emory dan Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Universitas Emory, meneliti hal ini dengan cara memindai otak 50 nenek saat mereka melihat foto cucu mereka yang masih kecil.
Hasil pindai secara umum menunjukkan bahwa ada aktivasi di area otak yang terkait dengan empati emosional para nenek. Itu tandanya, para nenek diarahkan untuk merasakan apa yang dirasakan cucu mereka ketika mereka berinteraksi dengan mereka. Jika cucu mereka tersenyum, mereka merasakan kegembiraan anak itu. Dan jika cucu mereka menangis, mereka merasakan sakit dan kesusahan anak itu.
Sementara ketika mereka ditunjukkan foto anak mereka yang sudah dewasa, para nenek tidak menunjukkan level emosi yang sama.
Demikian juga ketika si cucu minta dibelikan mainan atau benda apapun yang ia sukai, akan menjadi beban pikiran apabila belum bisa mengabulkannya.
*****
"Uti, besok Umay ulang tahun, katanya Uti mau beliin May HP," kata si Keriting kepada neneknya yang akrab dipanggil Uti oleh si cucu, pada satu kesempatan ketika sang Uti mengunjungi si Keriting.
Mengunjungi cucu untuk melepas kangen itulah satu-satunya cara yang dilakukan, apalagi kalau si Keriting sudah lama tidak berkunjung menemui Akung dan Uti nya karena sang Papa sibuk dan tidak bisa meninggalkan tugasnya.
"Iyaaa, nanti pasti Uti beliin," jawab Uti nya sambil mengelus dan mencium cucunya dengan penuh rasa sayang.
"Yeeeeeeee....!" jawab si Keriting kegirangan.
Di zaman sekarang ini hampir semua orang, baik orang tua, remaja sampai anak-anak memiliki handphone atau sering disingkat HP. Karena pada saat ini handphone merupakan barang yang wajib dimiliki untuk mencari informasi lewat internet, berkomunikasi dengan teman, ataupun eksis di media sosial. Jika seseorang tidak memiliki handphone maka ia akan dianggap kuno dan gatek.
Selain dampak positif handphone bagi kehidupan antara lain: untuk berkomunikasi dengan teman maupun keluarga, mencari infomasi dari berbagai belahan dunia, menambah wawasan, menambah teman karena ada media sosial yang memungkinkan untuk berteman dengan berbagai orang didunia, mengambil gambar atau foto untuk bahan belajar dan untuk hiburan seperti mendengarkan musik, melihat film dan bermain game.
Juga memiliki dampak negatif khususnya bagi remaja ataupun anak-anak antara lain: mengganggu konsentrasi belajar karena selalu memikirkan handphone sehingga tidak fokus saat belajar disekolah maupun belajar dirumah, disamping dampak negatif lainnya.
Untuk itu peran orang tua sangat dibutuhkan didalam mengarahkan remaja atau anak-anak dalam menggunakan benda canggih ini.
*****
Dalam waktu singkat si Keriting sudah pandai mengoperasionalkan HP yang dibelikan oleh sang Uti sebagai hadiah ulang tahun. Mulai dari membuka dan menonton youtube, bermain game, sampai pada melakukan panggilan dan menerima video call sendiri.
Baru dua pekan sejak kunjungan terakhir, Akung dan Uti nya si Keriting sudah merasai kangen berat terhadap cucunya ini. Video call adalah cara satu-satunya yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kangen mereka, kali ini sang Akung lah yang merasai kangen yang sangat itu.
"Ya sudah, di video call aja dulu, untuk minggu ini belum bisa kesana karena masih ada kegiatan," kata Uti nya si Keriting kepada suaminya.
Kemudian sang Akung melakukan sambungan video call langsung ke nomornya si Keriting. Setelah menunggu beberapa saat video call pun tersambung, dan muncullah wajah serta suara si Keriting dan Abangnya dilayar HP.
Belum lagi sempat sang Akung menyapa, si Keriting dan Abangnya sudah tak sabar ingin menunjukkan beberapa mainan baru yang ia miliki.
"Kuuung... May ama Abang banyak mainan baru, ada akuarium sama ikannya juga, lucu dan cantik," teriak si Keriting dari seberang sana.
"Wuaaah hebat, mana coba tunjukin, Akung pengen liat," jawab sang Akung menyemangati.
Kemudian si Keriting mengarahkan HP nya ke akuarium barunya.
"Ikan nya manaa.. katanya tadi ada ikan lucu dan cantik," timpal sang Akung.
Si Keriting langsung memutar HP nya kearah yang sangat dekat dengan ikan didalam akuarium itu. Belum lagi sempat gambar ikan terlihat, namun layar HP nya Akung nampak bergejolak.
Lama ditunggu gambar ikan itu tak juga muncul. Mungkin si Keriting dan Abangnya sedang mengambil alat bantu berupa bangku kecil, pikir Akung nya. Namun layar malah menggelap dengan suara berisik dan kresek-kresek yang tidak bisa dipahami. Sambungan akhirnya malah terputus sama sekali.
Dengan berasumsi gangguan sinyal, sang Akung kemudian melakukan panggilan kembali sampai berulang-ulang, namun hasilnya tetap tidak dapat menyambung.
Tak selang beberpa lama, telepon dari Mamanya si Keriting diterima, memberi khabar bahwa HP nya si Keriting nyemplung dan tenggelam dalam akuarium.
Ooh, karena begitu semangat dan berebut dengan Abangnya ingin menunjukkan mainan barunya saat video call itu, menyebabkan HP si Keriting terlepas dari genggaman dan menyelam di dasar akuarium.
"Gantiin...!" kata sang Uti sedikit ketus.
Sang Akung hanya diam.
Kangen itu memang mahal. [Prie]
*****
Kasihan cucu Utyi, besuk belikan HP lg sama Kakung ya .....
BalasHapusπππ
HapusGiliran Akung yg beliin Doong hehehe
BalasHapusBandar tekor π€£
HapusSekali lagi, mantap
BalasHapusTerimakasih sudah singgah untuk membaca π
HapusGak seberapa lah harga hp di banding kasih sayang yg di tekan kan di awal cerita. So....rindu itu tidak mahal. Sehat2 akung nya keriting....
BalasHapusTerimakasih sdh berkunjung dan membaca π
HapusPosting Komentar