#𝟏𝟏2𝟕 𝙈𝒆𝙣𝒊𝙩 𝘽𝒆𝙧𝒔𝙖𝒎𝙖 𝘽𝒂𝙧𝒊𝙨𝒕𝙖 𝙆𝒐𝙥𝒊Oleh: Suprianto
Kopi belakangan ini mulai digandrungi semua kalangan, hal tersebut ditandai dengan menjamurnya sejumlah gerai kopi dengan berbagai ragam dan jenis penyajiannya. Jika dulu kopi menjadi minuman kegemaran para orang tua, kini semakin digandrungi para milenial sebagai bagian dari gaya hidup kekinian.
Meminum kopi bagi sebagian orang telah menjadi ritual pagi sebelum memulai aktivitas. Menjamurnya sejumlah coffee shop di sejumlah kota besar di Indonesia mengindikasikan bahwa kopi dikonsumsi dan digemari oleh semua kalangan usia. Kopi jadi minuman favorit untuk sekadar hang out atau sebagai teman saat meeting bersama rekan kerja.
Istilah kopi darat atau kopdar sering digunakan dalam interaksi sosial. Nongkrong sambil menyeruput kopi di kedai atau cafe adalah salah satu bentuk bersosialisasi yang dilakukan oleh semua kalangan. Kopi lantas menjadi semakin lekat dalam budaya populer.
Sebenarnya aku enggan keluar rumah malam ini. Gerimis sejak selepas Magrib tadi sudah menitik kecil. Namun, karena nyeri di pergelangan kaki sebelah kiri akibat salah urat sehabis bermain futsal sore tadi, suka tidak suka aku harus keluar mencari cream pereda rasa sakit dengan menembus gerimis malam mengendarai vespa tua milikku.
Belum lagi sampai di apotek tujuan, gerimis kecil itu mendadak berubah menjadi hujan yang sangat deras. Aku segera membelokkan vespa tuaku memasuki pelataran parkir di sebuah kedai kopi yang ada di ruas jalan itu untuk berteduh. Kedai kopi itu bernama “Legalita Coffee”.
Meski tidak kuyup. Namun, jaket kulit belel milikku sebagian basah. Ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di kedai kopi ini, pun bukan dalam keadaan terjebak hujan seperti saat ini.
Sabtu malam, sekedar melewati akhir pekan dengan beberapa teman biasanya aku mengunjungi kedai ini. Menyeruput kopi hangat, ngobrol, sambil menikmati musik akustikan yang disediakan oleh pihak pengelola dan sesekali ikut bernyanyi.
Untuk ukuran sebuah kota kecil ditempatku tinggal, kedai kopi ini boleh dibilang cukup ramai pengunjung, terlebih pada malam akhir pekan. Meski sederhana. Namun, interior yang dimiliki ditata dengan apik dan rapih. Ruang untuk pengunjung ada yang ditempatkan di dalam dan ada yang disediakan di halaman kedai secara terbuka dengan meja bulat berkapasitas empat orang yang beratapkan payung lebar. Menu yang disediakan pun cukup lengkap, meski tidak selengkap layaknya coffee shop yang berada di kota-kota besar.
Namun, kali ini terlihat begitu sepi. Hanya ada empat orang pengunjung. Bahkan, satu di antaranya aku kenal sebagai pegawai kedai itu sendiri. Bisa jadi ini karena pengaruh hujan yang turun sejak selepas Magrib tadi.
Sambil berpayungkan jaket kulit belel milikku, aku berlari kecil menghindari hujan menuju kedai, melewati sudut teras yang digunakan sebagai tempat musik akustikan. Sambil sebelumnya mengkibaskan jaket kulit belelku dari basahnya air hujan, kemudian aku mengambil tempat duduk di teras kedai yang juga disediakan untuk pengunjung menghadap ke panggung kecil tempat musik akustikan.
Tampak di sana seorang perempuan muda berusia sekitar 35 tahunan sedang bernyanyi sambil memainkan gitar, mengiringi sendiri lagu yang dinyanyikannya, sebuah lagu cinta dari Cakra Chan berjudul “Kekasih Bayangan”.
Aku tahu bahwa lagu yang tengah perempuan muda itu nyanyikan masih belum selesai, setelah interlude masih ada lirik yang harusnya ia ulangi. Namun, entah mengapa ia segera menyudahinya, meletakkan gitar, lalu menghampiriku sambil menyodorkan menu kopi.
“Mbak baru disini?” tanyaku.
“Sudah jalan empat bulan Mas,” jawab wanita itu, sekaligus mengingatkanku bahwa aku ternyata sudah sebilangan itu tidak ngopi di sini.
“Berarti Mas sudah lama ya enggak ke sini,” lanjut perempuan itu sambil menerima catatan pesananku, kopi espresso dan french fries.
“Tapi sebelumnya aku sering kok lihat Mas di sini dan sering nyanyiin lagunya Naff, Kenanglah Aku,” sambung perempuan itu lagi sambil berlalu meninggalkanku menuju bar.
Karena letak tempat duduk yang aku ambil cukup strategis, meski terhalang kaca bening sebagai penyekat. Namun, aku dapat melihat dengan jelas kesibukannya dibalik bar. Tampak perempuan itu dengan cekatan menyiapkan grinder, mesin espresso, dan cangkir untuk pesananku. Oh, dia barista di sini, gumamku dalam hati.
“Silahkan dinikmati espresso-nya Mas,” kata barista perempuan itu, “Sebentar saya ambilkan french fries-nya,” ujarnya lagi.
“Terimakasih,” jawabku singkat.
Barista perempuan itu kembali ke bar dengan sedikit tergesa untuk mengambil french fries. Saat ia kembali dan meletakkan di mejaku, terbaca dengan jelas label nama dirinya yang terpasang di dada kanannya, Yana.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Hujan semakin deras dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Aku masih menikmati kopi racikan yang disajikan Yana. Sambil ngemil french fries, sesekali aku menghisap dan menghembuskan asap rokokku.
Pengunjung kedai tidak bertambah. Bahkan, tiga orang sebelumku sudah lebih dulu pulang. Meski hujan lebat, tetapi bukan halangan bagi mereka karena ketiganya berkendara mobil. Kini pengunjung hanya tersisa aku.
Tadi ketika Yana memintaku bernyanyi, aku sempat memujinya bahwa kopi racikannya enak dan sedap, serta french fries-nya gurih. Yana menanggapi dengan mengangguk dan tersenyum manis.
“Mau nyanyi lagu apa Mas,” tanya Yana sambil memegang gitar dan merapihkan mikrofon, “Tapi jangan yang susah-susah ya, aku gak bisa ngiringinya,” katanya lagi.
Belum sempat aku mengatakan judul lagu yang akan dinyanyikan, tiba-tiba bleep listrik mati bersamaan dengan suara petir yang terdengar di tengah hujan lebat malam ini. Jeritan kaget terdengar dari mulut Yana.
“Duuh.. enggak jadi nyanyi deh Mas,” katanya sambil menyalakan blitz dari handphone miliknya.
Aku melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Hujan masih terus saja turun dan listrik belum juga nyala.
“Kita langsung tutup aja, kayaknya listrik bakalan lama nyalanya. Lagian hujan juga enggak reda-reda,” kata pengelola Legalita Coffee kepada Yana.
Yana segera membereskan peralatan kerjanya di bar. Tak selang berapa lama di antara redupnya bantuan sinar blitz handphone, aku melihat Yana melangkah keluar dengan tas kecil di bahu kirinya.
“Bang, aku pulang bareng Mas Prie saja, kebetulan kami satu arah,” kata Yana kepada pengelola kedai sambil melihat ke arahku meminta persetujuan.
Aku mengangguk setuju.
“Ya sudah, aku duluan ya,” kata pengelola kedai sambil masuk ke dalam mobilnya, “Itu Totok sudah datang, nanti kunci kasih saja sama dia,” sambung pengelola kedai itu memberi tau kalau OB sudah datang.
“Gak apa-apa ya Mas pulangnya sambil anterin aku, tempat kosku deket kok,” kata Yana sambil menunjuk ke arah belakang kedai kopi itu, “Tenang Mas, aman kok,” sambungnya seakan mengerti dengan apa yang aku pikirkan.
“Eeh Mas, aku tambah ya kopinya, lagian ini masih hujan. Mas Pri juga belum bisa pulang kan? Gratis kok,” lanjut Yana lagi sambil bercanda.
Aku kembali melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul 23.23 WIB. Hujan masih belum reda. Namun, listrik sudah kembali nyala. Setelah meletakkan cangkir kopi kedua di mejaku, Yana mengambil tempat duduk di hadapanku, lalu sibuk dengan HP-nya. Ia terlihat mengetik berulang-ulang, mungkin membalasi pesan-pesan yang sebelumnya belum sempat diresponnya.
“Yan, kamu di sini barista atau pengisi hiburan,” tanyaku memecah keheningan.
Sambil meletakkan HP-nya di meja, Yana mulai menceritakan kisahnya mengapa ia bisa sampai menjadi barista di kedai kopi tempatnya bekerja.
Yana berkisah kalau sebelumnya ia pernah tinggal di salah satu kota besar di pulau Sumatera. Ia tidak detail menceritakan mengapa sampai berada di sana. Ia hanya menceritakan kalau niat awalnya adalah melanjutkan kuliah. Namun, kondisi ekonomi mengharuskan Yana mengurungkan niatnya kuliah.
Di kota itu Yana menumpang di rumah salah seorang famili dari Ibunya. Meski orang yang ia tumpangi masih terbilang famili. Namun, Yana merasa tidak nyaman kalau hanya berdiam diri, apalagi setelah ia tidak dapat melanjutkan kuliah, hari-harinya hanya di rumah saja. Ingin kembali ke kota asalnya ada rasa malu terhadap teman-temannya. Aku harus bertahan di sini, demikian niat hati Yana. Aku harus berhasil.
Melalui informasi dari media sosial Yana membaca ada sebuah cafe yang membutuhkan penyanyi. Kemudian Yana mendatangi cafe tersebut. Setelah interview dengan pengelola tentang kemampuan dan pengalaman yang ia miliki, akhirnya Yana diterima bekerja di cafe tersebut.
Meski tidak bisa disebut profesional. Namun, Yana memiliki kemampuan bernyanyi dan memainkan alat musik gitar. Tentu saja ini sudah cukup untuk bisa menghibur pengunjung cafe.
“Untuk menyambung hidup Mas, enggak enak kan kalo cuma numpang gratis saja, walau itu famili,” kata Yana disela ceritanya.
“Bisa ada kemampuan meracik kopi dari mana?” tanyaku sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.
“Di cafe itu Mas aku sambil belajar,” jawab Yana, “Barista di situ baik-baik dan mau berbagi ilmunya,” sambungnya lagi.
“Awalnya dari sebuah keiinginan untuk belajar, tapi mungkin bisa jadi juga karena keadaan,” kata Yana lagi sambil tertawa.
Yana melanjutkan ceritanya bahwa barista kopi perempuan bisa dibilang sangat jarang pada waktu itu. Ia terobsesi oleh sebuah film yang sempat booming pada era 2017-an tentang romansa kehidupan dunia perkopian dan barista yang berjudul “Filosofi Kopi”. Yana tertarik, apalagi sang pengelola mengizinkan dengan alasan belum ada barista perempuan di kota itu. Dengan memperkerjakan barista perempuan tentu akan mendapat nilai sendiri karena keluwesan dalam melayani dan komunikasi dengan konsumen.
“Karena kedai kopi tempat aku kerja baru mulai buka pada pukul empat sore, jadi aku ada kesempatan untuk latihan dan ngulik ilmu perkopian dibimbing sama barista senior di situ,” kata Yana.
“Ceritanya panjang deh Mas. Intinya setiap ada kemauan dan usaha kita bisa menjadi orang yang produktif,” simpul Yana sambil mengatakan bahwa cafe tempatnya bekerja semenjak dirinya menjadi barista di situ sempat ramai dikunjungi konsumen.
Namun, setiap usaha selalu ada godaan dan cobaan. Saat Yana baru akan mulai menceritakannya, aku telah keburu memotongnya lebih dulu karena jam sudah menunjukkan pukul 00.11 WIB, apalagi hujan sudah reda sejak tadi.
“Sudah tengah malam Yan, ayo aku antar kamu pulang,” kataku, dan Yana mengangguk, apalagi terlihat Totok sang OB sudah mulai terkantuk-kantuk sambil menonton TV.
Sebuah tempat kos yang meski tidak bisa dibilang mewah, tetapi tempat ini cukup bersih dan asri, serta memiliki halaman sendiri. Di sini aku mengantar Yana pulang.
Di jalan tadi Yana sempat mengatakan akan melanjutkan kisah dirinya bila ada kesempatan dan memintaku untuk mengunjungi kedai kopinya kembali esok.
“Tunggu sebentar ya Mas, lima menit saja. Aku mau ambil anakku dulu. Dia aku titipkan di rumah pengasuh,” kata Yana sambil melangkah cepat mengacuhkan aku yang keheranan.
Anak? Gumamku dalam hati.
Tak lama berselang terlihat Yana kembali dengan menggendong seorang anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun, lalu membuka pintu kosan dan menawarkanku untuk masuk ke dalam lebih dulu.
“Masuk dulu Mas,” kata Yana
“Kamu di kosan ini hanya berdua?”
“Iya mas, ini anak kandungku dan aku menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak ini.”
“Oh, tapi ini sudah malam Yan, lagian takut nanti malah hujan turun lagi,” kataku kepada Yana sambil menunjukkan HP yang tertera jam digital pada angka 00.52 WIB.
Yana memahami alasanku tersebut, kemudian aku mulai menghidupkan kembali mesin vespaku. Saat aku bersiap akan memutar persneling, Yana berkata sambil melambaikan tangan.
“Makasih ya Mas, sudah antar aku pulang. Hati-hati!”
Sesampai di rumah, setelah aku mengganti pakaian basahku, karena meski hujan sudah reda, tetapi sisa hujan dalam bentuk gerimis masih sempat membuat pakaian serta jaket kulit belelku basah.
Sambil rebahan ditempat tidur, pikiran dan ingatanku kembali ke Yana, Jadi Yana single parent? Dan anak kecil tadi adalah anaknya? Juga dari mana ia tau dan hafal dengan namaku?
Ah, sudahlah, gumamku dalam hati sambil menepis pikiran yang tentu tidak bisa aku jawab sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.25 WIB, hampir jam dua dini hari, rasa kantukku mulai datang. Kemudian aku menarik selimut untuk mengurangi dinginnya malam itu.
Saat itu aku mulai sadar, dimana rasa nyeri pada pergelangan kaki kiriku tadi? Mengapa sekarang tidak sakit lagi? Juga di mana rasa laparku? Padahal sejak sore hingga malam ini aku belum makan. Apa karena dua jam lebih tadi aku bersama seorang barista cantik, lalu menyebabkan rasa nyeri dikaki dan rasa laparku hilang?
Entahlah, gumamku dalam hati sambil mulai memejamkan mata.
*****
Cerpen Karya: Suprianto atau yang akrab disapa Prie ini, telah dimuat sebelumnya oleh media online Pratama Media News, portal berita yang menyajikan berbagai kabar dan informasi terhangat yang disajikan oleh reporter profesional dari dalam negeri maupun manca negara, pada 9 Juni 2023, dengan editor JHK.
Baca juga:
😮 mantap
BalasHapus🙏🙏🙏
Hapusditunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusInsyaAllah sampai 5 eps. Dan terimakasih sudah singgah di blog untuk membaca 🙏
HapusPosting Komentar