ℕ𝕘𝕒𝕛𝕚 𝔻𝕚𝕣𝕚 ~𝑨𝒍 𝑮𝒉𝒖𝒍𝒖𝒘~


Ada tersisa sedikit lahan kosong dihalaman belakang rumah saya. Tidak begitu luas, namun cukup untuk mendirikan bangunan sederhana sejenis Saung berbahan bambu dan beratap ijuk.


Didepan saung ini kemudian saya buatkan kolam. Kolam ini bisa dibilang amatiran dan kelasnya hanya ikut-ikutan. Tidak luas dan kedalamannya pun tidak melebihi betis kaki orang dewasa. Meski demikian hal itu tidak menghalangi rasa senang dan bangga karena saya mampu mengerjakannya sendiri.


Kemudian saya mengisi kolam itu dengan tujuh ekor ikan hias jenis Koi berwarna-warni. Saya mengurusinya sendiri termasuk membersihkan dan menguras kolam serta memberi makan ikan-ikan itu.


Seperti jamaknya orang yang memiliki barang baru, begitu pulang dari bekerja atau dari manapun, saya langsung menuju ke situ. Kolam ini menyita perhatian saya, walau sejenak pun tidak saya biarkan ikan-ikan Koi itu kelaparan. Begitu datang saya taburi makanan, begitu mau pergi saya taburi makanan. Saya tidak ingin ikan-ikan itu menderita.


Bahkan dalam sehari, bisa bekali-kali kolam itu saya taburi makanan dan membersihkan permukaan air dari kotoran daun kering yang menjatuhinya. Hasilnya, ikan-ikan Koi itu langsung gemuk dalam beberapa hari. Tapi kemudian, satu persatu ikan mati. Hari ini mati satu, besok mati satu, esoknya lagi mati satu.


Saya sungguh sedih, tapi teman saya malah tertawa melihat kesedihan saya. “Ikan Koi tidak butuh banyak makan. Ia tahan lapar. Sehari cukup diberi makan 2 kali saja, itupun enggak sebanyak ini,” kata teman saya sambil memberi tahu tentang bagaimana cara bijak budidaya ikan Koi. Banyak keharusan yang harus dijalankan. Dan ternyata keharusan itulah yang saya sudah langgar.


Ikan-ikan itu tidak mati karena penyakit, tapi karena kekenyangan. Ikan-ikan itu mati bukan hasil kejahatan, tapi karena cinta dan kasih sayang yang berlebihan. Kebaikan tanpa ilmu ternyata bukan hanya tidak ada gunanya, tapi ia amat berbahaya. Kita bisa mencintai seseorang, sambil pelan-pelan membunuhnya tanpa menyadarinya.


*****

Mengerjakan hal apapun harus disertai dengan pengetahuan (ilmu), jika tidak tentu akan diperoleh hasil yang tidak baik, apalagi terkait dengan prosesi ibadah. Seseorang yang beribadah tanpa ilmu akan melenceng dan menyebabkan kekeliruan besar.

Ibadah yang benar harus didasari dengan ilmu. Karena tanpa ilmu kita tidak bisa mengartikan makna dalam ibadah kita, sehingga menimbulkan berbagai kekeliruan dalam menjalankan ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.


Banyak keterangan dan penjelasan yang dapat kita peroleh yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist, namun sebagai orang awam agar dapat terhindar dari kekeliruan dalam beribadah, hal yang dapat kita lakukan dikehidupan sekarang ini hendaknya mengikuti ajaran para ulama dan berpegang teguh pada dalih para ulama.


Beberapa penjelasan tentang perlunya ibadah harus disertai ilmu yang Penulis himpun dari berbagai sumber, salah satunya adalah dari Imam Hasan Al Bashri ra, mengatakan:


“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Hendaklah kalian menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun mereka meninggalkan belajar.” (Miftah Daris Sa’adah: 1/300).


Nasihat yang sangat berharga sekali, kapal tidak mungkin bisa berjalan di daratan dan sampai kapan pun tidak akan pernah sampai pada tempat yang hendak ditujunya. Amal tanpa ilmu pun demikian, tidak mungkin sampai pada tujuannya.


*****


Dalam kehidupan, kita memiliki orang-orang yang kita cintai. Mungkin itu pasangan, keluarga atau mungkin teman-teman. Sedemikian tinggi kecintaan itu hingga jika suatu saat mereka meninggalkan kita maka kita akan merasakan kesedihan yang mendalam.


Demikian pula halnya dengan kebencian. Biasanya kita juga memiliki orang-orang yang kita benci, baik karena kelakuannya, hubungan yang tidak baik pada masa lalu atau karena berbagai hal lainnya. Dalam hidup jangan terlalu cinta dan benci karena itu berbahaya bagi kesehatan mental.


Berkaitan dengan cinta dan benci kepada seseorang, dikutip dari umma.id, Rasulullah SAW pernah berpesan untuk tidak berlebih-lebihan. Mencintai atau membenci sesuatu tidak boleh berlebih-lebihan, karenanya biasa-biasa saja, tetapi berikan ketenangan kepada yang orang yang kita cintai itu maupun yang kita benci.


Jangan sampai karena teramat membenci seseorang, akhirnya kita menganiaya mereka secara keji dan tidak boleh pula karena teramat cintanya hingga kita melupakan Allah SWT.


Sayyid Seif Alwi yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati, dalam sebuah video mengatakan, "Kata baginda Rasul, cintai sesuatu itu jangan keterlaluan. Yang sedang-sedang saja. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan, yang sedang-sedang saja."


"Bisa jadi yang kalian sangat cintai itu akan mengecewakan kalian sehingga membuat kalian sangat sakit. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan. Karena bisa jadi suatu saat apa yang kalian benci justru itu yang kalian cintai. Malah justru kalian jatuh hati kepadanya. Banyak yang seperti itu. Dulu benci, sekarang cinta," lanjutnya.


Sebagaimana Allah berfirman:


“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)…” (Al-Maidah: 2)


“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (Al-Maidah: 8)


Dari hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:


“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” (HR. At-Tirmidzi no.1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178)


Umar bin Al-Khaththab ra berkata, “Wahai Aslam, janganlah rasa cintamu berlebihan dan jangan sampai kebencianmu membinasakan.”


Aslam berkata, “Bagaimana itu?


Umar radiallohu anhu berkata, “Jika engkau mencintai seseorang, janganlah berlebihan seperti halnya anak kecil yang menyenangi sesuatu dengan berlebihan. Jika engkau membenci seseorang, jangan sampai kebencian menimbulkan keinginan orang yang kamu benci celaka atau binasanya.”


Al-Hasan Al-Bashri ra ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah berkata:


“Hendaknya kalian mencintai jangan berlebihan dan membenci tidak berlebihan. Telah ada orang-orang yang berlebihan dalam mencintai satu kaum akhirnya binasa. Ada pula yang berlebihan dalam membenci satu kaum dan mereka pun binasa.”


Semoga bermanfaat. [Prie]


*****

8 Komentar

  1. cakeeeeeep.... ada banyak ayat Alquran tentang berlebihan. Al-araf ayat 31, Annisa ayat 171 . hadist riwayat dari ibnu Mas'ud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda "celakalah orang-orang yang melampaui batas (Al-mutanathi'un) (HR Muslim,Abu daud dan Ahmad). menurut Imam An-nawawi "celaka Al-mutanathi'un " maksudnya arti dari orang-orang yang melampaui batas dalam ucapan dan perbuatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukron 🙏
      Sudah berkenan mengunjungi Blog ini untuk membaca. Semoga Allah menerima amalanku dan amalan kalian 🤲

      Hapus
  2. Semua yg berlebihan berakhir tdk baik.... trimakasih sdh memberi pencerahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukron 🙏
      Sudah menyempatkan berkunjung di Blog ini untuk membaca. Semoga Allah menerima amalanku dan amalan kalian 🤲

      Hapus
  3. Mantap. Risalah-risalah ini dapat dikumpulkan dan menjadi sebuah buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukron 🙏
      Sudah menyempatkan berkunjung di Blog ini untuk membaca. Semoga Allah menerima amalanku dan amalan kalian 🤲

      Hapus
  4. Makasih pecerahannya, berarti nggak boleh berlebihan, yg sedang2 saja itu lebih baik

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama